Tampilkan postingan dengan label Kelapa Sawit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelapa Sawit. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Tentang minyak kelapa sawit


Minyak kelapa sawit adalah minyak nabati bergizi tinggi yang merupakan bahan pangan yang penting bagi milyaran orang di dunia. Minyak kelapa sawit di ekstrak dari buah kelapa sawit, yang merupakan tanaman yang sangat produktif dengan hasil melimpah
Lebih jauh tentang minyak kelapa sawit

Minyak kelapa sawit digunakan dalam berbagai produk – baik produk makanan maupun non- makanan – mulai dari margarin, sup, dan es krim sampai shampo, lotion kulit, sabun dan lilin. Sekitar 43 juta ton minyak kelapa sawit diproduksi setiap tahunnya dari areal tanam seluas kira-kira 12 juta hektar.

Kelapa sawit tumbuh di daerah khatulistiwa di Asia, Amerika Latin dan Afrika, tetapi lebih dari 75% suplai dunia berasal dari Malaysia dan Indonesia. Sejak tahun 1990an, area perkebunan kelapa sawit telah meningkat sekitar 43%.

Pertumbuhan permintaan minyak kelapa sawit terus menigkat karena berbagai faktor, tetapi yang faktor yang paling utama adalah:

Populasi yang terus meningkat dan perlu makanan

Pendapatan yang meningkat di pasar-pasar berkembang yang menambah keinginan untuk pembelian produk-produk brand

Kegunaannya pada produksi bahan bakar alami.
Minyak kelapa sawit dalam produk kami

Unilever punya sejarah panjang dalam penggunaan minyak kelapa sawit pada produknya. Itu karena adanya lemak bermanfaat (versatile fat) yang bisa bertahan pada temperatur tinggi, memungkinan komponen-komponen tertentu untuk dipisahkan untuk dipakai pada aplikasi produk-produk khusus.

Unilever membeli 1,5 juta ton kelapa sawit setiap tahunnya (1,2 juta ton secara langsung dan 0,2 juta ton melalui pemasok oleochemicals, yang kira-kira berjumlah 3% dari produksi total dunia. Tetapi, selama lima tahun belakangan ini, jumlah total pembelian kelapa sawit (serta bahan-bahan khusus yang mengandung kelapa sawit) telah meningkat.

Kandungan kelapa sawit digunakan pada seluruh portofolio kami, terutama untuk margarin, dan juga untuk produk-produk makanan kami (sup, saus dan bouillons) serta es krim. Minyak ini juga digunakan untuk sabun batangan, sementara bahan turunannya juga merupakan bahan pokok untuk produksi perawatan pribadi dan pakaian.
Komitmen yang sudah ada sejak dulu

Komitmen kami pada kelapa sawit yang berkelanjutan bukanlah hal yang baru. Pada paruh akhir 1990an, sebagai bagian dari program pertanian berkelanjutan kami, kami mulai mengembangkan Panduan Pengolahan Pertanian yang Baik untuk kelapa sawit. Kami juga mulai bekerja dengan perkebunan dan penanam untuk mengimplementasikan panduan ini.

Sementara perkebunan yang diolah dengan lebih baik dan kelapa sawit menjadi model dari pertanian yang berkelanjutan, terdapat sedikit kekhawatiran mengingat kelapa sawit yang diproduksi saat ini belum seluruhnya berkesinambungan.

Pada tahun 2004, kami menjadi anggota pendiri dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) – sebuah program yang dibentuk oleh industri bekerja sama dengan organisasi konservasi WWF. Tujuan dari Roundtable adalah untuk menggerakkan pendekatan industri secara luas untuk kesinambungan pada perkebunan kelapa sawit.

Kelapa sawit



Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.Daftar isi [sembunyikan]

Pemerian botani
African Oil Palm (Elaeis guineensis)

Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.

Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.

Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:
Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
Mesoskarp, serabut buah
Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.

Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).



Syarat hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.


Tipe kelapa sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama yang terluas dibudidayakan orang. dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.

Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari Dura, Pisifera, dan Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.



Hasil tanaman

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[1]

Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.

Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.

Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.

Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.




Sejarah perkebunan kelapa sawit

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.

Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.[2]

Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).

Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Jumat, 13 April 2012

INDUSTRI SAWIT MALAYSIA KURANG TENAGA KERJA


KUALA LUMPUR--MICOM: Industri minyak sawit Malaysia menghadapi masalah terkait produksi berkelanjutan dan berkurangnya tenaga kerja di tengah makin besarnya peran sektor ini terhadap perekonomian Malaysia, demikian laporan Oxford Business Group, Selasa (12/7). 

Dalam laporan Economi Updates seperti dikutip Bernama, OBG mengatakan, dengan produksi lokal yang diperkirakan jenuh, sementara panen di Indonesia yang merupakan produsen nomor satu dunia di atas rata-rata, total pendapatan dari sektor ini diperkirakan stabil pada 2011. 

Kontribusi industri minyak sawit terhadap perekonomian Malaysia diestimasikan sekitar delapan persen dari PDB dengan total produksi hanya mencapai 17 juta ton, dan menempatkannya sebagai produsen terbesar kedua setelah Indonesia. 

OBG mengatakan, Dewan Minyak Sawit Malaysia memperkirakan produksi bisa mencapai 17,6 juta ton, sedikit turun dibanding produksi 2009 yang tercatat 17,7 juta ton. 

"Sebagian besar produksi ditujukan ke pasar ekspor, sebanyak 16,7 juta ton dikapalkan kepada pembeli luar negeri pada  2010," katanya. 

Meski demikian, kata OBG, perkiraan pasar akan naiknya produksi pada semester kedua 2011 telah mendorong harga turun. Kondisi itu  diperparah dengan ongkos produksi yang meningkat dan kemungkinan berkurangnya tenaga kerja. 

"Dengan ekonomi Indonesia yang tengah booming dan upah buruh naik, Malaysia berjuang untuk menarik pekerja asing dan menahan mereka yang sudah aktif di sektor ini. 

"Produsen bisa menghadapi masalah ini dengan menaikkan upah, namun langkah ini akan mendorong kenaikan harga di pasar atau berkurangnya keuntungan serta pendanaan untuk investasi pada masa mendatang," kata OBG. (Ant/OL-2)