Rabu, 18 April 2012

Kelapa sawit



Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.Daftar isi [sembunyikan]

Pemerian botani
African Oil Palm (Elaeis guineensis)

Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk mendapatkan tambahan aerasi.

Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan menjadi mirip dengan kelapa.

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.

Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul digunakan sebagai tetua jantan.

Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:
Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
Mesoskarp, serabut buah
Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetul]]nya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.

Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula) dan bakal akar (radikula).



Syarat hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.


Tipe kelapa sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama yang terluas dibudidayakan orang. dari kedua species kelapa sawit ini memiliki keunggulan masing-masing. E. guineensis memiliki produksi yang sangat tinggi dan E. oleifera memiliki tinggi tanaman yang rendah. banyak orang sedang menyilangkan kedua species ini untuk mendapatkan species yang tinggi produksi dan gampang dipanen. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.

Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari Dura, Pisifera, dan Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang, sehingga tidak memiliki inti (kernel) yang menghasilkan minyak ekonomis dan bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.



Hasil tanaman

Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.[1]

Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goreng dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.

Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.

Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.

Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.




Sejarah perkebunan kelapa sawit

Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".

Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1910.

Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.[2]

Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).

Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.

Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sabtu, 14 April 2012

NTB TAK HANYA "GUDANG" BURUH PERKEBUNAN SAWIT

  
       Predikat sebagai "gudang" pembantu dan buruh perkebunan agaknya lekat dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat, karena tenaga kerja Indonesia yang ditempatkan di luar negeri sebagai pekerja perkebunan dan pembantu rumah tangga (pramuwisma) berasal dari daerah ini.
       Tenaga kerja Indonesia (TKI) mendominasi pekerja perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan pembantu rumah tangga atau pramuwisma di Arab Saudi sebagian besar berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB).
        Kualitas tenaga kerja Indonesia asal NTB yang ditempatkan di berbagai negara selama ini juga relatif rendah, yakni hanya lulusan sekolah dasar (SD) dan paling tinggi "jebolan" sekolah menengah pertama (SMP). Dan mereka hanya menjadi pekerja kasar, seperti pembantu rumah tangga (PRT) dan buruh perkebunan.
        Memang tak terbantahkan TKI asal NTB didominasi lulusan SD dan terbanyak bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan menjadi PRT di Arab Saudi dan negara-negara timur tengah lainnya.
        Dari 58.230 orang TKI NTB yang ditempatkan di 16 negara pada 2011, sekitar 94 persen atau sebanyak 54.714 orang adalah lulusan SD. Dari 58.230 orang TKI itu yang menjadi pekerja ladang mencapai 42.853 orang dan 13.398 menjadi pembantu.
        Namun menurut Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Mataram dan Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) NTB anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
        Kepala BP3TKI Mataram Syahrum SE mengatakan, Provinsi Nusa Tenggara Barat tidak hanya mampu mengirim tenaga kerja untuk menjadi pembantu rumah tangga atau buruh perkebunan di luar negeri.
       "Anggapan bahwa NTB hanya mampu menempatkan pembantu rumah tangga (PRT) di Arab Saudi atau buruh perkebunan di Malaysia itu tidak sepenuhnya benar. Kita mampu menempatkan tenaga kerja berkualitas yang berijazah diploma (D3), bahkan sarjana kalau memang ada permintaan," katanya.
        Memang benar selama ini TKI asal NTB terbanyak menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan pramuwisma atau PRT di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya, karena permintaan untuk sektor itu paling banyak.
       Menurut Syahrum, kalau seandainya dari luar negeri banyak yang meminta tenaga kerja berkualifikasi diploma atau sarjana, NTB akan mampu menyiapkan. Di NTB banyak calon TKI yang berijazah diploma maupun sarjana, namun selama ini permintaan dari luar negeri relatif terbatas.
        Salah satu bukti bahwa NTB mampu menyiapkan calon TKI yang berkualitas adalah ketika Republik Demokratik Timor Leste membutuhkan tenaga bidan. Dari 10 orang bidan yang dibutuhkan, NTB mampu memenuhi 50 persen atau sebanyak lima orang, sisanya masing-masing satu orang dari provinsi lain di Indonesia.
         "Sebenarnya NTB mampu menempatkan tenaga kerja berkualitas, ini terbukti dari 10 bidan yang  ditempatkan di Timor Leste, sebanyak lima diantaranya berasal dari Kabupaten Lombok Tengah (NTB), sisanya masing-masing satu orang dari  provinsi lain di Indonesia," ujarnya.
        Lima dari 10 bidan asal NTB yang di tempatkan Timor Leste itu adalah Dina Mariana, Kurnia Winanti, Eka Wiwik Mashuri, Is Andriana Ningsih dan Reni Anggraeni. Lima lainnya  Netty Herawati Purba (asal Sumut), Ayu Handayani (Riau), Leni Maryana (DKI Jakarta), Suwi'in (Jawa Timur) dan  Alwati (Jawa Tengah).
         Syahrum mengatakan, kalau ada permintaan tenaga bidan atau perawat dari luar negeri termasuk dari Timor Leste atau negara lainnya, NTB  mampu menyiapkan karena di daerah ini masih cukup banyak tersedia calon TKI yang berkualitas.
       Tanggapan serupa juga disampaikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pengusaha Jasa tenaga Kerja Indonesia (Apjati) NTB yang menyatakan daerahnya  mampu menyiapkan TKI berkualitas yang berijazah,  SMA dan bahkan sarjana.
       Ketua DPD Apjati NTB H MUazim Akbar mengatakan, tudingan bahwa daerahnya hanya mampu menyiapkan calon tenaga kerja sekelas buruh dan pembantu rumah tangga, tidak sepenuhnya benar.
       "Kalaupun selama ini NTB banyak menempatkan TKI di sektor ladang atau perkebunan kelapa sawit di Malaysia dan pembantu rumah tangga PRT di Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah lainnya, itu karena permintaan untuk sektor tersebut memang paling banyak," ujarnya.
       Ia mengatakan, selama ini yang terbanyak adalah permintaan tenaga kerja untuk sektor perkebunan kelapa sawit dan PRT, sehingga yang   terbanyak dikirim adalah buruh perkebunan dan pembantu yang umumnya berijazah paling tinggi sekolah menengah pertama (SLTP), bahkan banyak yang SD.
       Menurut Muazim, kalau seandainya banyak permintaan calon TKI berkualitas dan berijazah SMA, diploma, bahkan sarjana sebenarnya NTB mampu menyiapkan. Karena itu tudingan bahwa NTB hanya mampu menyiapkan calon tenaga kerja berijazah SD dan SMP itu tidak sepenuhnya benar.
       "Mengenai adanya permintaan tenaga perawat. bukannya kita tidak mampu memenuhi, tetapi di NTB masih terbuka luas peluang kerja untuk sektor itu, karena ini masih cukup banyak puskesmas dan rumah sakit yang membutuhkan perawat termasuk bidan," kata Muazim.
       Dia mengatakan, kalau peluang kerja masih tersedia di daerah sendiri terutama menjadi pegawai negeri sipil, calon tenaga kerja tidak akan tertarik untuk bekerja di luar negeri kendati gajinya jauh lebih banyak.
      Menurut data dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Mataram sebanyak 54.714 orang atau sekitar 94 persen dari 58.230 orang TKI asal NTB yang di tempatkan di luar negeri selama 2011 hanya lulusan Sekolah Dasar (SD).
      Sementara lulusan SMP/sederajat sebanyak 2.812 orang dan lulusan SMA/sederajat sebanyak 702 orang, sedangkan lulusan diploma (D1) dan S1 hanya masing-masing satu orang.
        
        Perbaikan kualitas  
     Pemerintah Indonesia memang menargetkan perbaikan kualitas pendidikan tenaga kerja sehingga pada tahun 2012 angka tenaga kerja lulusan Sekolah Dasar (SD) yang bekerja di luar negeri bisa dipangkas menjadi 25 persen dari angka 49,53 persen yang ada sekarang.

     "Pemerintah mengupayakan agar pada tahun 2012 para tenaga kerja pada tingkat sekolah dasar bisa turun hingga 25 persen dari yang saat ini masih 49,53 persen dari angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2011 sebanyak 119,4 juta orang," ujar Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar.
      Target itu akan dicapai lewat kerja sama dua kementerian yakni Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
       Diharapkan kerja sama antara kedua kementerian itu akan dapat mengubah komposisi tenaga kerja yang berpendidikan Sekolah Dasar (SD)   menurun menjadi 25 persen pada tahun 2012, sedangkan tenaga kerja sekolah menengah naik menjadi 20 persen.
       Dalam kaitan itu Menakertrans  telah bertemu dengan Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh untuk membahas pengembangan kerja sama perbaikan kualitas tenaga kerja lulusan sekolah dasar dan memperbanyak pekerja di lulusan diploma dan sarjana.
        Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)  Februari 2011 tercatat mayoritas tenaga kerja adalah lulusan sekolah dasar (SD) ke bawah hingga sebanyak 55,1 juta orang (49,53 persen) dan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 16,35 juta orang.
       Sedangkan pekerja lulusan Diploma sebanyak 3,3 Juta (2,98 persen) dan pekerja pendidikan Sarjana hanya sebesar 5,5 juta orang (4,98 persen).
        Muhaimin menyebutkan strategi yang harusnya dilakukan dunia pendidikan dalam mengatasi tantangan dunia kerja diantaranya adalah membangun kompetensi individu, sosial dan profesi.
        "Membangun kompetensi individu itu seperti memiliki kompetensi fisik dan mental yang unggul, sedangkan membangun kompetensi sosial dengan membangun jejaring nasional dan internasional, serta membangun kompetensi profesi dengan menguasai bidang profesi tertentu sesuai standar kompetensi," paparnya.
        Sementara itu, untuk calon tenaga kerja yang akan bekerja di luar negeri, pemerintah juga mengupayakan untuk adanya peningkatan pendidikan bekerjasama dengan universitas terbuka setempat.
       "Salah satu cara meningkatkan kualitas TKI, pemerintah bekerja sama dengan Universitas Terbuka mengadakan jenjang perkuliahan bagi TKI, seperti proses pendidikan di Arab Saudi, Hong Kong, Malaysia dan Korea Selatan," katanya.
        Sejatinya kualitas tenaga kerja memang harus ditingkatkan termasuk di NTB agar TKI yang dikirim ke luar negeri tidak hanya sebatas pramuwisma dan buruh perkebunan. (*)


Jumat, 13 April 2012

INDUSTRI SAWIT MALAYSIA KURANG TENAGA KERJA


KUALA LUMPUR--MICOM: Industri minyak sawit Malaysia menghadapi masalah terkait produksi berkelanjutan dan berkurangnya tenaga kerja di tengah makin besarnya peran sektor ini terhadap perekonomian Malaysia, demikian laporan Oxford Business Group, Selasa (12/7). 

Dalam laporan Economi Updates seperti dikutip Bernama, OBG mengatakan, dengan produksi lokal yang diperkirakan jenuh, sementara panen di Indonesia yang merupakan produsen nomor satu dunia di atas rata-rata, total pendapatan dari sektor ini diperkirakan stabil pada 2011. 

Kontribusi industri minyak sawit terhadap perekonomian Malaysia diestimasikan sekitar delapan persen dari PDB dengan total produksi hanya mencapai 17 juta ton, dan menempatkannya sebagai produsen terbesar kedua setelah Indonesia. 

OBG mengatakan, Dewan Minyak Sawit Malaysia memperkirakan produksi bisa mencapai 17,6 juta ton, sedikit turun dibanding produksi 2009 yang tercatat 17,7 juta ton. 

"Sebagian besar produksi ditujukan ke pasar ekspor, sebanyak 16,7 juta ton dikapalkan kepada pembeli luar negeri pada  2010," katanya. 

Meski demikian, kata OBG, perkiraan pasar akan naiknya produksi pada semester kedua 2011 telah mendorong harga turun. Kondisi itu  diperparah dengan ongkos produksi yang meningkat dan kemungkinan berkurangnya tenaga kerja. 

"Dengan ekonomi Indonesia yang tengah booming dan upah buruh naik, Malaysia berjuang untuk menarik pekerja asing dan menahan mereka yang sudah aktif di sektor ini. 

"Produsen bisa menghadapi masalah ini dengan menaikkan upah, namun langkah ini akan mendorong kenaikan harga di pasar atau berkurangnya keuntungan serta pendanaan untuk investasi pada masa mendatang," kata OBG. (Ant/OL-2) 

Kamis, 12 April 2012

PROSPEK DAN ARAH PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Pengembangan agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang diperlukan sebagai kegiatan pembangunan subsektor perkebunan dalam rangka revitalisasi sektor pertanian. Perkembangan pada berbagai subsistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan agribisnis kelapa sawit. Dalam dokumen praktis ini digambarkan prospek pengembangan agribisnis saat ini hingga tahun 2010, dan arah pengembangan hingga tahun 2025. Masyarakat luas, khususnya petani, pengusaha, dan pemerintah dapat menggunakan dokumen praktis ini sebagai acuan.

Perkebunan kelapa sawit saat ini telah berkembang tidak hanya yang diusahakan oleh perusahaan negara, tetapi juga perkebunan rakyat dan swasta. Pada tahun 2003, luas areal perkebunan rakyat mencapai 1.827 ribu ha (34,9%), perkebunan negara seluas 645 ribu ha (12,3%), dan perkebunan besar swasta seluas 2.765 ribu ha (52,8%). Ditinjau dari bentuk pengusahaannya, perkebunan rakyat (PR) memberi andil produksi CPO sebesar 3.645 ribu ton (37,12%), perkebunan besar negara (PBN) sebesar 1.543 ribu ton (15,7 %), dan perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 4.627 ribu ton (47,13%). Produksi CPO juga menyebar dengan perbandingan 85,55% Sumatera, 11,45% Kalimantan, 2%, Sulawesi, dan 1% wilayah lainnya. Produksi tersebut dicapai pada tingkat produktivitas perkebunan rakyat sekitar 2,73 ton CPO/ha, perkebunan negara 3,14 ton CPO/ha, dan perkebunan swasta 2,58 ton CPO/ha.

Pengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan juga didukung secara handal oleh enam produsen benih dengan kapasitas 124 juta per tahun. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT. Socfin, PT. Lonsum, PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, dan PT. Bina Sawit Makmur masing-masing mempunyai kapasitas 35 juta, 25 juta, 15 juta, 12 juta, 12 juta, dan 25 juta. Permasalahan benih palsu diyakini dapat teratasi melalui langkah-langkah sistematis dan strategis yang telah disepakati secara nasional. Impor benih kelapa sawit harus dilakukan secara hati-hati terutama dengan pertimbangan penyebaran penyakit.

Dalam hal industri pengolahan, industri pengolahan CPO telah berkembang dengan pesat. Saat ini jumlah unit pengolahan di seluruh Indonesia mencapai 320 unit dengan kapasitas olah 13,520 ton TBS per jam. Sedangkan industri pengolahan produk turunannya, kecuali minyak goreng, masih belum berkembang, dan kapasitas terpasang baru sekitar 11 juta ton. Industri oleokimia Indonesia sampai tahun 2000 baru memproduksi olekimia 10,8% dari produksi dunia.

Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.

Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian, tujuan utama pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah 1) menumbuhkembangkan usaha kelapa sawit di pedesaan yang akan memacu aktivitas ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan 2) menumbuhkan industri pengolahan CPO dan produk turunannya serta industri penunjang (pupuk, obata-obatan dan alsin) dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah CPO dan produk turunannya. Sedangkan sasaran utamanya adalah 1) peningkatan produktivitas menjadi 15 ton TBS/ha/tahun, 2) pendapatan petani antara US$ 1,500 – 2,000/KK/tahun, dan 3) produksi mencapai 15,3 juta ton CPO dengan alokasi domestik 6 juta ton.

Arah kebijakan jangka panjang adalah pengembangan sistem dan usaha agribisnis kelapa sawit yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi. Dalam jangka menengah kebijakan pengembangan agribisnis kelapa sawit meliputi peningkatan produktivitas dan mutu, pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah, serta penyediaan dukungan dana pengembangan.

Strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit diantaranya adalah integrasi vertikal dan horisontal perkebunan kelapa sawit dalam rangka peningkatan ketahanan pangan masyarakat, pengembangan usaha pengolahan kelapa sawit di pedesaan, menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan dalam rangka pemanfaatan sumber daya perkebunan, dan pengembangan pasar. Strategi tersebut didukung dengan penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) dan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk peningkatan kapasitas agribisnis kelapa sawit. Dalam implementasinya, strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung dengan program-program yang komprehensif dari berbagai aspek manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan (perbenihan, budidaya dan pemeliharaan, pengolahan hasil, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat) hingga evaluasi.

Kebutuhan investasi untuk perluasan kebun kelapa sawit 60.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. 12,7 trilyun. Kebutuhan investasi di Indonesia Barat adalah Rp. 5,8 trilyun, investasi petani plasma sebesar Rp. 3,4 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 1,9 trilyun pemerintah sebesar Rp. 587milyar. Kebutuhan investasi di Indonesia Timur adalah Rp. 6,8 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 3,9 trilyun, perusahaan inti sebesar Rp. 2,3 trilyun dan pemerintah sebesar Rp. 649 milyar.

Kebutuhan investasi untuk peremajaan kebun kelapa sawit 100.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. 14,6 trilyun. Kebutuhan investasi untuk peremajaan 80.000 ha di Indonesia Barat adalah Rp. 10,7 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 8 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 2,4 milyar dan pemerintah sebesar Rp. 349,912,500,000). Kebutuhan investasi untuk peremajaan 20.000 ha di Indonesia Timur adalah Rp.3,9 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 3 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 741milyar dan pemerintah sebesar Rp. 113 milyar Total biaya investasi yang diperlukan dalam 5 tahun ke depan sekitar Rp. 27,3 trilyun.

Dalam implementasinya, pengembangan agribisnis kelapa sawit baik melalui perluasan maupun peremajaan menerapkan pola pengembangan inti-plasma dengan penguatan kelembagaan melalui pemberian kesempatan kepada petani plasma sebagai pemilik saham perusahaan. Pemilikan saham ini dilakukan melalui cicilan pembelian saham dari hasil potongan penjualan hasil atau dari hasil outsourcing dana oleh organisasi petani.

Kebutuhan investasi untuk pengembangan pabrik biodiesel kapasitas 6.000 ton per tahun (6.600 kl per tahun) dan kapasitas 100.000 ton per tahun (110.000 kl per tahun) masing-masing adalah Rp. 12 milyar dan Rp. 180 milyar. Apabila setiap tahun dibangun satu pabrik skala kecil dan besar, maka total biaya investasi yang diperlukan dalam lima tahun ke depan Rp. 860 milyar. Nilai investasi tersebut diperlukan untuk membeli peralatan dan mendirikan bangunan pabrik. Dukungan kebijakan sarana dan prasarana serta regulasi diperlukan untuk mencapai sasaran investasi dan pengembangan agribisnis sawit ini. Dukungan kebijakan diharapkan diperoleh dari Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Deparetemen Keuangan, Bank Indonesia, Kantor Menteri Negara BUMN, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kantor Menteri Negara Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi, Pemerintah Daerah, dan Kejaksaan Agung serta Kepolisian.

Rabu, 11 April 2012

dongeng sebelum tidur



ISTANA BUNGA 
istana bungaDahulu kala, hiduplah raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong rakyatnya yang memerlukan bantuan.
Suatu hari, Pangeran Aji Lesmana marah pada ayah bundanya, “Ayah dan Ibu jahat. Mengapa menyusahkan orang miskin?!”
Raja dan Ratu sangat marah mendengar perkataan putra mereka itu.
“Jangan mengatur orangtua! Karena kau telah berbuat salah, aku akan menghukummu. Pergilah dari istana ini!” usir Raja.
Pangeran Aji Lesmana tidak terkejut. Justru Puteri Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon kepada ayah bundamya, “Jangan, usir Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya pun pergi!”
Raja dan Ratu sedang naik pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.
Keduanya sampai di sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
“Silakan masuk, Anak Muda,” sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka adalah cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja pura-pura tak tahu. Kusmantoro mengutarakan maksudnya, “Kami, kakak beradik yatim piatu. Kami ingin berguru pada Panembahan.”
Kakek sakti bernama Panembahan Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun karena kebijakannya, Panembahan Manraba menerima keduanya menjadi muridnya. Panembahan Manraba menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari. Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu.
Suatu malam Panembahan memanggil mereka berdua. “Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk sementara sudah cukup kalian berguru di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan setelah kalian melaksanakan satu amalan.”
“Amalan apa itu, Panembahan?” tanya Kusmantari.
“Besok pagi-pagi sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini. Lalu berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum bunga melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang tua mereka.”
Kusmantoro dan Kusmantari terkejut. Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak ingin penyamaran mereka terbuka.
“Dua kuntum melati itu berkhasiat menyadarkan Raja dan Ratu dari perbuatan buruk mereka. Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya berkhasiat jika disertai kejujuran hati,” pesan Panembahan Manraba.
Ketika menjelang tidur malam, Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan. Apakah mereka harus berterus terang kalau mereka adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak jujur. Padahal kuntum melati hanya berkhasiat bila disertai dengan kejujuran.
Akhirnya, pagi-pagi sekali mereka menghadap Panembahan.
“Kami berdua mohon maaf, Panembahan. Kami bersalah karena tidak jujur kepada Panembahan selama ini.”
Saya mengerti, Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua adalah Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana.”
Setelah mohon pamit dan doa restu, Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke istana. Setibanya di istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka segera memeluk kedua orang tua mereka yang berbaring lemah itu.
Puteri Rauna lalu meracik dua kuntum melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu mereka. Ajaib! Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah. Pangeran dan Puteri Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati ajaib itu pada Panembahan. Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal dengan nama Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan.

Senin, 02 April 2012


Polisi keluar dari dalam halaman Gedung DPR/MPR di Jakarta untuk membubarkan unjuk rasa mahasiswa dari berbagai universitas yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak, Kamis (29/3/2012). Polisi menghalau mahasiswa hingga ke arah Slipi untuk membubarkan aksi mahasiswa tersebut.

 
Hasil rapat paripurna DPR akhir pekan lalu mengenai penundaan kenaikan harga BBM masih disoroti sejumlah pihak. Harga BBM tidak semestinya ditentukan oleh mekanisme pasar.
"DPR telah menyisipkan ayat (6) huruf a Undang-Undang APBN Perubahan Tahun 2012 yang kami anggap inkonstitusional karena menyerahkan kenaikan BBM dengan mekanisme pasar. Untuk itu menjadi hak konstitusional setiap warga negara untuk mengajukan gugatan judicial review (uji materi) Undang-Undang APBN-P Tahun 2012 ke Mahkamah Konstitusi."
Demikian pernyataan sikap bersama sejumlah LSM dan organisasi yang tergabung dalam Tim Advokasi untuk Kedaulatan Energi. Tim ini antara lain terdiri dari Indonesian Human Rights Committee for Social Justice, Lingkar Madani untuk Indonesia, Institute Hijau Indonesia, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, Koalisi Anti Utang, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia dan Jaringan Advokasi Tambang.
Menurut mereka, pencantuman ayat yang memberi pemerintah keleluasan menaikkan harga BBM mengikuti gejolak harga minyak dunia merupakan pelanggaran Pasal 33 UUD 1945 yang mengatur soal tujuan sumber daya alam, yaitu sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Seharusnya, ungkap mereka dalam siaran pers Senin (2/4/2012), pembahasan Undang-Undang APBN Perubahan Tahun 2012 dialokasikan untuk hal lain yang vital, misalnya menstimulus pelaksanaan pembaruan agraria.

segalanya boleh drujuk di sini >>KLIK<<

MASJID TUREN MALANG


Desa turen kota malang, menunjukkan megahnya dan kemewahan arsitektur bernuansa islami yang sangat menakjubkan.
Gambar yang terletak di atas adalah gambar Pondok Pesantren yang terletak di desa turen, yang sampai sekarangpun masih di renovasi. Tapi anehnya di tempat tersebut selalu ramai orang, dan banyak orang-orang tersebut keheranan dari manakah asal dana dari PP tersebut.
Dan PP tersebut juga sering di sebut-sebut orang dengan sebotan masjid tiban ( ghaib ).